Pages

Senin, 31 Oktober 2011


4 dari sekitar 7 milyar penduduk bumi

 Gadis itu duduk menunggu sang lelaki di atas motor. Dengan sesekali memainkan hp, matanya menerawang ke berbagai arah. Wajahnya yang  tak sepolos gadis seusia pada umumnya.  Aku masih saja serius mengamati dirinya. Dengan jeans robek pada bagian lutut sebelah kanan, ia makin terlihat anggun. Belum lagi penantiannya usai, ia kembali mengutak – ngatik Hp.


Deru mesin sepeda motorku mengiringi  percakapan di parkiran sebuah warung kopi. Saat itulah datang seorang bocah lelaki berumur 3 – 5 tahun. Dengan menyilangkan kedua tangan di atas dada, ia Nampak seperti mengerti apa yang kami perbincangkan. Anak ini mungkin tukang parkir atau pengemis jalanan. Berharap akan selembar uang seribuan dari setiap pengendara yang akan meninggalkan lokasi tersebut. Ternyata ia tak menampakkan psikologis dari dua asumsi di atas. Senyumnya merekah ketika kuusap kepalanya dan kutanyakan namanya. Ia belum juga meminta uang, baik oleh kata maupun raut wajahnya. Bahkan ketika kami akan beranjak dari situ. 


Seorang nenek berusia sekitar ¾ abad itu masih Nampak perkasa memikul sekarung sampah plastik. Itulah pemandangan yang hampir tiap hari kudapati pada jam – jam tertentu. Memang ada beberapa yang berprofesi serupa, ada ibu yang menyertakan anaknya, ada pula sekumpulan anak tanpa orang tua. Yah, mereka semua adalah pahlawan kebersihan. Dalam berbagai kesempatan bercakap dengannya, si nenek memiliki pendengaran yang kurang baik. Begitulah dampak dari siklus kehidupan. Dari situ pula kuketahui bahwa ia berasal dari sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 100 km dari tempatnya kini. Baru sekitar 6 tahun yang lalu ia mulai tinggal di kota ini. 


Tanpa kawat gigi maupun lensa kontak di matanya, ia sedikit berbeda dengan teman – temannya. Belum lagi dengan potongan rambut yang terkesan sederhana. Dalam bebagai kesempatan melihatnya, ia lebih memilih berkemeja daripada mengenakan blous atau dress. Dengan keahlian yang minim dalam mengekspresikan diri saat di depan kamera, membuatnya sangat mudah kukenali lewat foto. Hanya senyum sederhana dan terkesan dipaksa yang tergambar dalam berbagai fotonya. Jika ku bisa menebak, ia akan memilih menjadi sutradara dibandingkan menjadi seorang pemeran dalam sebuah film.



Minggu, 23 Oktober 2011

Sore yang mendung


          Selepas dari kampus aku langsung menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa pengendara sedang terburu – buru, maklum langit menunjukkan tanda – tanda hujan. Terlebih lagi suhu udara yang tak menentu diselingi angin yang cukup kencang.
Perkenalkan namaku Ucla, mahasiswa semester pertengahan salah satu PTN di kota Makassar. Tak ada yang istimewa dariku. Seperti kebanyakan mahasiswa lain, kadang nginap di kampus kadang pula di rumah. Penampilanku pun tak luar biasa amat, memiliki sepeda motor hadiah dari orang tua ketika duduk di semester tiga. Dikatakan modis tidak juga, bahkan terkesan urakan meskipun ada yang bilang manis .
Sesampai di rumah rasa lapar mengalahkan rasa gerah. Setelah memenuhi kebutuhan pokok tadi tak lantas aku beranjak mandi. Sedangkan langit sore masih saja bergejolak, walau tak sampai menurunkan hujan. Di sore yang mendung ini ku layangkan pikiran. Memutar kembali dan memajukan  waktu, tentu saja hanya di alam khayalan. Mengingat masa – masa sekolah dulu, kelam dan cerah bergantian saja muncul di benak ini. Saat akan membayangkan masa – masa yang lucu, tiba – tiba aku dikagetkan oleh suara panggilan dari my lovely Mother. Ternyata tabung gas yang sedari tadi membantu tersajinya makanan kini telah kosong. Belum lagi dua ekor ikan yang belum “diselesaikan” olehnya ( kompor gas serta perangkatnya ). Ada dua opsi saat itu, menghubungi toko yang menyediakan LPG delivery atau langsung mendatangi sendiri. Dengan mempertimbangkan tiap peluang dari opsi tadi serta mempertimbangkan kondisi langit di luar, akhirnya dipilih lah opsi yang pertama. Meskipun memakan ongkos beberapa persen lebih besar. Maklum ongkos kirim serta pulsa yang terpakai tadi.
Beberapa saat yang lalu hujan sempat turun. Diiringi gemuruh petir serta kilatannya. Namun semenit kemudian hujan berhenti, mungkin karena langit kehabisan air, maklum jumlah pemakai air makin lama makin banyak. Kondisi pikiranku masih saja melayang – layang, semoga saja tidak ada sesuatu yang negatif akan bertamu. Sambil sesekali menikmati bau badan yang kurang sedap kilatan tadi muncul kembali. Sepuluh  lagu yang sedari tadi menemani ku  kini telah habis terputar.


Ada sebuah guyonan lama yang kembali teringat.
( dialog ini menggunakan bahasa sehari – hari anak Makassar )
·         A : Pasti kalau orang2 kecurian & pergi ke orang pintar, pasti na bilang itu dukun/orang pintar, orang dekat ji itu bu/pak.
·         B : iyo, begitu memang selalu !!!. Karena biasa keluarganya ji sendiri itu yang ambil atau tetangganya.
·         A : hahahahaha…….. jelasmi orang dekat, kalau orang jauh tidak sampai tangannya ambil itu barang.
·         B : ??????.............. Hahahaha, iyo di’ !!!!!!

SELAMAT SORE !!!

Senin, 17 Oktober 2011

Bukan hanya kunang – kunang dan tak hanya di darat, anda dapat menemukan "bintang kecil"



Menurut mitos yang beredar di beberapa daerah, kunang – kunang adalah kuku orang yang telah meninggal. Mungkin karena hewan ini menghasilkan cahaya  kuning kecoklatan pada gelap malam. Terlepas dari benar atau tidaknya mitos di atas, Kunang – kunang itu benar bercahaya .
        Jika anda memiliki kedekatan dengan laut atau setidaknya senang menghabiskan malam di pinggir laut, mungkin anda pernah menyaksikan fenomena seperti kunang – kunang di atas. Bukan  hanya kunang – kunang dan tak hanya di darat, anda menemukan “bintang kecil”.    
Namun ada juga beberapa kelompok fitoplankton ( tumbuhan mikroskopis ) yang dapat menghasilkan cahaya. Di antaranya Noctiluca atau  Ceratium.
        Noctiluca ini akan menyala jika terganggu oleh kapal,perenang dan pecahan gelombang. Produksi cahaya secara biologis ini disebut biolominiscene. Reaksi ini terjadi juga pada beberapa spesies dinoflagellata, bakteri laut, dan seluruh phyla utama dari hewan laut. Cahaya dihasilkan apabila Luciferin yaitu senyawa organic sederhana teroksidasi dengan enzim Luciferase. Reaksi memancarkan cahaya telah dirancang sedemikian rupa sehingga hampir tak ada panas yang dihasilkan.( Ir. Arifin, M.Si )
       Di samping memiliki suatu keajaiban, peran fitoplangton secara umum juga sangat besar. Kelompok tumbuhan yang bersifat autotrof ini merupakan produsen primer di perairan. Bahkan hampir 79 % oksigen yang anda hirup dihasilkan dari sini, melebihi sumbangan dari hutan hujan.
Gambar ; Noctiluca scintillans