Selepas dari kampus aku langsung menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa pengendara sedang terburu – buru, maklum langit menunjukkan tanda – tanda hujan. Terlebih lagi suhu udara yang tak menentu diselingi angin yang cukup kencang.
Perkenalkan namaku Ucla, mahasiswa semester pertengahan salah satu PTN di kota Makassar. Tak ada yang istimewa dariku. Seperti kebanyakan mahasiswa lain, kadang nginap di kampus kadang pula di rumah. Penampilanku pun tak luar biasa amat, memiliki sepeda motor hadiah dari orang tua ketika duduk di semester tiga. Dikatakan modis tidak juga, bahkan terkesan urakan meskipun ada yang bilang manis .
Sesampai di rumah rasa lapar mengalahkan rasa gerah. Setelah memenuhi kebutuhan pokok tadi tak lantas aku beranjak mandi. Sedangkan langit sore masih saja bergejolak, walau tak sampai menurunkan hujan. Di sore yang mendung ini ku layangkan pikiran. Memutar kembali dan memajukan waktu, tentu saja hanya di alam khayalan. Mengingat masa – masa sekolah dulu, kelam dan cerah bergantian saja muncul di benak ini. Saat akan membayangkan masa – masa yang lucu, tiba – tiba aku dikagetkan oleh suara panggilan dari my lovely Mother. Ternyata tabung gas yang sedari tadi membantu tersajinya makanan kini telah kosong. Belum lagi dua ekor ikan yang belum “diselesaikan” olehnya ( kompor gas serta perangkatnya ). Ada dua opsi saat itu, menghubungi toko yang menyediakan LPG delivery atau langsung mendatangi sendiri. Dengan mempertimbangkan tiap peluang dari opsi tadi serta mempertimbangkan kondisi langit di luar, akhirnya dipilih lah opsi yang pertama. Meskipun memakan ongkos beberapa persen lebih besar. Maklum ongkos kirim serta pulsa yang terpakai tadi.
Beberapa saat yang lalu hujan sempat turun. Diiringi gemuruh petir serta kilatannya. Namun semenit kemudian hujan berhenti, mungkin karena langit kehabisan air, maklum jumlah pemakai air makin lama makin banyak. Kondisi pikiranku masih saja melayang – layang, semoga saja tidak ada sesuatu yang negatif akan bertamu. Sambil sesekali menikmati bau badan yang kurang sedap kilatan tadi muncul kembali. Sepuluh lagu yang sedari tadi menemani ku kini telah habis terputar.
Ada sebuah guyonan lama yang kembali teringat.
( dialog ini menggunakan bahasa sehari – hari anak Makassar )
( dialog ini menggunakan bahasa sehari – hari anak Makassar )
· A : Pasti kalau orang2 kecurian & pergi ke orang pintar, pasti na bilang itu dukun/orang pintar, orang dekat ji itu bu/pak.
· B : iyo, begitu memang selalu !!!. Karena biasa keluarganya ji sendiri itu yang ambil atau tetangganya.
· A : hahahahaha…….. jelasmi orang dekat, kalau orang jauh tidak sampai tangannya ambil itu barang.
· B : ??????.............. Hahahaha, iyo di’ !!!!!!
SELAMAT SORE !!!
0 No koment, sedikit saja:
Posting Komentar