Pages

Rabu, 14 Desember 2011


             PEMANFAATAN SUMBER DAYA PESISIR
 
 
        PENDAHULUAN

Pada hakikatnya negara agraris kurang tepat jika diibaratkan kepada Indonesia. Hal ini jika ditelisik lebih jauh dari berbagai sudut pandang. Apalagi jika didukung dengan data – data berikut. “Panjang pantai 81.000 km atau 14% garis pantai seluruh dunia, di mana 2/3 wilayah Indonesia berupa perairan laut. Jumlah pulau adalah 18.108 di mana hanya 6.000 pulau berpenduduk.  Luas laut kedaulatan 3.1 juta km2. Luas laut ZEE 2.7 jt km2.  Zona pesisir dapat menopang kehidupan 60% penduduk Indonesia”. Sekaranglah saatnya kita sadar akan kenyataan di atas & lebih memperhitungkan lagi konsep negara maritim buat Indonesia.
Fakta sejarah menunjukkan bahwa sejak zaman Monarki Sriwijaya-Majapahit, Indonesia pernah menjadi Negara maritim. Wilayah laut, darat, gunung menjadi sumber devisa dan keuntungan untuk pembangunan pada masa itu. Terputusnya pengembangan potensi maritim Indonesia bukan tanpa sebab. Kolonial Portugal, Inggris, dan Belanda, mengambil alih kekuatan maritim kerajaan-kerajaan Nusantara melalui perjanjian dagang yang memonopoli. Belanda, melalui VOC dengan pujian semu bahwa orang Indonesia merupakan petani yang baik menjadikan daratan Indonesia sebagai sumber keuangannya. Bangsa ini terus diarahkan menjalani identitas agraris oleh invasi tanam paksa dan celakanya paradigma ini terus berkembang, terkulturkan secara kolektif sampai hari ini.  (circumstance,blog spot)
Namun kenangan akan kejayaan masa lampau tak akan terulang jika pemikiran bangsa Indonesia berorientasi pada daratan. Dukungan semua pihak khususnya kaum akademisi sangat dibutuhkan dalam merumuskan penelitian tentang pesisir serta sumber daya laut. Itulah yang nantinya dijadikan landasan bagi pemerintah dalam menelurkan kebijakan. Berkaca pada kondisi kekinian masyarakat pesisir yang masih “terbelakang” dalam beberapa aspek.  Makalah ini akan mengulas hubungan antara masyarakat dan alam , khususnya di kawasan pesisir da pulau – pulau kecil.
        ISI

 Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki potensi laut yang sangat besar. Namun, selama ini potensi laut tersebut belum termanfaatkan dengan baik dalam meningkatkan kesejahteraan bangsa pada umumnya, dan pemasukan devisa negara khususnya. Bahkan, sebagian besar hasil pemanfaatan laut selama ini justru “lari” atau “tercuri” ke luar negeri oleh para nelayan asing yang memiliki perlengkapan modern dan beroperasi hingga perairan Indonesia secara ilegal. Dalam konteks inilah upaya pemanfaatan laut Indonesia secara maksimal tidak saja tepat tetapi juga merupakan suatu keharusan.   (   Rudyanto.A, 2010 )
Berbagai model pemanfaatan potensi oleh masyarakat pesisir tidak terlepas dari berbagai pengaruh, baik dari dalam maupun dari luar. Seiring perkembangan zaman berbagai inovasi pun muncul dalam metode serta instrument yang digunakan. Berikut ini adalah garis besar kelompok masyarakat pesisir bila ditinjau pemanfaatan potensi pesisir tadi.
a)      Masyarakat nelayan tangkap, adalah kelompok masyarakat pesisir yang mata pencaharian utamanya adalah menangkap ikan dilaut.  Kelompok ini dibagi lagi dalam dua kelompok besar, yaitu nelayan tangkap modern dan nelayan tangkap tradisional.  Keduanya kelompok ini dapat dibedakan dari jenis kapal/peralatan yang digunakan dan jangkauan wilayah tangkapannya.
b)      Masyarakat nelayan pengumpul/bakul, adalah kelompok masyarakat pesisir yang bekerja disekitar tempat pendaratan dan pelelangan ikan.  Mereka akan mengumpulkan ikan-ikan hasil tangkapan baik melalui pelelangan maupun dari sisa ikan yang tidak terlelang yang selanjutnya dijual ke masyarakat sekitarnya atau dibawah ke pasar-pasar lokal.  Umumnya yang menjadi pengumpul ini adalah kelompok masyarakat pesisir perempuan.
c)       Masyarakat nelayan buruh, adalah kelompok masyarakat nelayan yang paling banyak dijumpai dalam kehidupan masyarakat pesisir. Ciri dari mereka dapat terlihat dari kemiskinan yang selalu membelenggu kehidupan mereka, mereka tidak memiliki modal atau peralatan yang memadai untuk usaha produktif. Umumnya mereka bekerja sebagai buruh/anak buah kapal (ABK) pada kapal-kapal juragan dengan penghasilan yang minim.
d)      Masyarakat nelayan tambak, masyarakat nelayan pengolah, dan kelompok masyarakat nelayan buruh.  (Syarief. E, 2010 )

Tak bisa dipungkiri bahwa salah satu sifat manusia adalah tak pernah puas dalam memiliki. Setiap orang selalu ingin lebih, lebih dan lebih lagi. Hal inilah yang menjadi akar permasalahan dalam pemanfaatan bersama potensi tadi. Sifat open access dari perairan laut memiliki potensi yang sangat besar bagi munculnya konflik antara masyarakat desa setempat (khususnya nelayan tradisional) dengan masyarakat luar desa dalam interaksi pemanfaatan sumberdaya laut. Masyarakat luar desa yang dimaksud disini adalah nelayan-nelayan  modern yang biasanya berasal dari kota-kota atau hanya sebagai pemodal bagi usaha penangkapan ikan, yang memiliki batas geografi sangat dekat dengan desa tersebut. Perbenturan ini berasal dari dualisme antara hukum adat yang dipegang erat oleh masyarakat desa dengan hukum legal formal (nasional) yang dianut oleh nelayan modern. ( Hariyani. N, 2011 )

Permasalahan juga terjadi dari suatu regulasi yang termaktub dalam sebuah undang – undang. Begitu banyaknya undang – undang yang kurang memihak pada rakyat kecil, sebut saja BHP, UU Intelegen dan HP3. Berikut adalah kutipan dari MK on line mengenai HP3. ” Pengaturan tentang obyek Hak Pengusahaan Perairan Pesisir (HP3) mengandung disharmoni, dan inkonsistensi, baik yang bersifat internal maupun yang bersifat horisontal dengan ketentuan di dalam Pasal 28H ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Wujud disharmoni dan inkonsistensinya itu adalah bahwa pengaturan obyek HP3 itu tidak memberikan jaminan kepastian hukum seperti yang dinyatakan atau ditentukan di dalam Pasal 28 huruf H ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945. Hal ini disampaikan oleh Ahli Pemohon Nurhasan Ismail pada sidang uji materiil Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-pulau Kecil, Rabu (27/4), di Gedung MK. Sementara Ahli Pemohon lain, Ronald Z. Titahelu menjelaskan bahwa masyarakat adat dengan wilayahnya merupakan satu kesatuan, sehingga jika HP3 kemudian disyaratkan, maka harus diberikan juga kepada masyarakat hukum adat. Oleh karena itu, pemberian sertifikat dalam kerangka memberikan hak untuk masyarakat adat bukan merupakan suatu tindakan yang bijaksana. Sejak awal masyarakat hukum adat, lanjut Ronald, mereka khususnya yang ada di pesisir, di pulau-pulau kecil, mereka sudah terikat bersama-sama dengan alam yang ada di sekitar mereka. “Otoritas mereka selama ini itu berjalan sebagaimana dahulu juga otoritas itu dilakukan,” jelas Ronald.    
      PENUTUP
Begitu banyak potensi yang dimiliki oleh pesisir dan pulau – pulau kecil, baik kekayaan alam maupun sosial budaya dari masyarakat. Sebut saja konsep kearifan lokal yang sebagian masih bertahan dalam menjaga kelestarian laut. Namun, seperti yang disinggung dari awal bahwa pengaruh negative dari luar kian kuat merubah tatanan yang sudah ada. Praktek – praktek kotor ( KKN ) kini tak jarang untuk ditemui, bahkan melukai sistem adat yang berlaku.
Biarkanlah alam, ambil saja seperlunya. Selebihnya bisa kamu, anak serta cucu kamu gunakan esok. Jangan kuasai laut walau hanya sejengkal, jangan larang kami buat melaut di daerah yang kalian patok. Terima kasih.















DAFTAR PUSTAKA
Anonim, 2011., http://empatujuhcode.blogspot.com/2011/11/negara-maritim.html, diakses tanggal13 des 11 pukul 21.30.
Anjasari, L, 2010., Uji UU Pengelolaan Wilayah Pesisir: Objek HP3 Disharmoni terhadap Konstitusi, MK Online, diakses tanggal 13 des 11 pukul 22.00.
Suhartono, E. 2011., Hp3 dan nasib nelayan tradisional, waspada.com, diakses tanggal 14 des 2011 pukul 05.50

Senin, 31 Oktober 2011


4 dari sekitar 7 milyar penduduk bumi

 Gadis itu duduk menunggu sang lelaki di atas motor. Dengan sesekali memainkan hp, matanya menerawang ke berbagai arah. Wajahnya yang  tak sepolos gadis seusia pada umumnya.  Aku masih saja serius mengamati dirinya. Dengan jeans robek pada bagian lutut sebelah kanan, ia makin terlihat anggun. Belum lagi penantiannya usai, ia kembali mengutak – ngatik Hp.


Deru mesin sepeda motorku mengiringi  percakapan di parkiran sebuah warung kopi. Saat itulah datang seorang bocah lelaki berumur 3 – 5 tahun. Dengan menyilangkan kedua tangan di atas dada, ia Nampak seperti mengerti apa yang kami perbincangkan. Anak ini mungkin tukang parkir atau pengemis jalanan. Berharap akan selembar uang seribuan dari setiap pengendara yang akan meninggalkan lokasi tersebut. Ternyata ia tak menampakkan psikologis dari dua asumsi di atas. Senyumnya merekah ketika kuusap kepalanya dan kutanyakan namanya. Ia belum juga meminta uang, baik oleh kata maupun raut wajahnya. Bahkan ketika kami akan beranjak dari situ. 


Seorang nenek berusia sekitar ¾ abad itu masih Nampak perkasa memikul sekarung sampah plastik. Itulah pemandangan yang hampir tiap hari kudapati pada jam – jam tertentu. Memang ada beberapa yang berprofesi serupa, ada ibu yang menyertakan anaknya, ada pula sekumpulan anak tanpa orang tua. Yah, mereka semua adalah pahlawan kebersihan. Dalam berbagai kesempatan bercakap dengannya, si nenek memiliki pendengaran yang kurang baik. Begitulah dampak dari siklus kehidupan. Dari situ pula kuketahui bahwa ia berasal dari sebuah kota kecil yang berjarak sekitar 100 km dari tempatnya kini. Baru sekitar 6 tahun yang lalu ia mulai tinggal di kota ini. 


Tanpa kawat gigi maupun lensa kontak di matanya, ia sedikit berbeda dengan teman – temannya. Belum lagi dengan potongan rambut yang terkesan sederhana. Dalam bebagai kesempatan melihatnya, ia lebih memilih berkemeja daripada mengenakan blous atau dress. Dengan keahlian yang minim dalam mengekspresikan diri saat di depan kamera, membuatnya sangat mudah kukenali lewat foto. Hanya senyum sederhana dan terkesan dipaksa yang tergambar dalam berbagai fotonya. Jika ku bisa menebak, ia akan memilih menjadi sutradara dibandingkan menjadi seorang pemeran dalam sebuah film.



Minggu, 23 Oktober 2011

Sore yang mendung


          Selepas dari kampus aku langsung menuju ke rumah. Sepanjang perjalanan terlihat beberapa pengendara sedang terburu – buru, maklum langit menunjukkan tanda – tanda hujan. Terlebih lagi suhu udara yang tak menentu diselingi angin yang cukup kencang.
Perkenalkan namaku Ucla, mahasiswa semester pertengahan salah satu PTN di kota Makassar. Tak ada yang istimewa dariku. Seperti kebanyakan mahasiswa lain, kadang nginap di kampus kadang pula di rumah. Penampilanku pun tak luar biasa amat, memiliki sepeda motor hadiah dari orang tua ketika duduk di semester tiga. Dikatakan modis tidak juga, bahkan terkesan urakan meskipun ada yang bilang manis .
Sesampai di rumah rasa lapar mengalahkan rasa gerah. Setelah memenuhi kebutuhan pokok tadi tak lantas aku beranjak mandi. Sedangkan langit sore masih saja bergejolak, walau tak sampai menurunkan hujan. Di sore yang mendung ini ku layangkan pikiran. Memutar kembali dan memajukan  waktu, tentu saja hanya di alam khayalan. Mengingat masa – masa sekolah dulu, kelam dan cerah bergantian saja muncul di benak ini. Saat akan membayangkan masa – masa yang lucu, tiba – tiba aku dikagetkan oleh suara panggilan dari my lovely Mother. Ternyata tabung gas yang sedari tadi membantu tersajinya makanan kini telah kosong. Belum lagi dua ekor ikan yang belum “diselesaikan” olehnya ( kompor gas serta perangkatnya ). Ada dua opsi saat itu, menghubungi toko yang menyediakan LPG delivery atau langsung mendatangi sendiri. Dengan mempertimbangkan tiap peluang dari opsi tadi serta mempertimbangkan kondisi langit di luar, akhirnya dipilih lah opsi yang pertama. Meskipun memakan ongkos beberapa persen lebih besar. Maklum ongkos kirim serta pulsa yang terpakai tadi.
Beberapa saat yang lalu hujan sempat turun. Diiringi gemuruh petir serta kilatannya. Namun semenit kemudian hujan berhenti, mungkin karena langit kehabisan air, maklum jumlah pemakai air makin lama makin banyak. Kondisi pikiranku masih saja melayang – layang, semoga saja tidak ada sesuatu yang negatif akan bertamu. Sambil sesekali menikmati bau badan yang kurang sedap kilatan tadi muncul kembali. Sepuluh  lagu yang sedari tadi menemani ku  kini telah habis terputar.


Ada sebuah guyonan lama yang kembali teringat.
( dialog ini menggunakan bahasa sehari – hari anak Makassar )
·         A : Pasti kalau orang2 kecurian & pergi ke orang pintar, pasti na bilang itu dukun/orang pintar, orang dekat ji itu bu/pak.
·         B : iyo, begitu memang selalu !!!. Karena biasa keluarganya ji sendiri itu yang ambil atau tetangganya.
·         A : hahahahaha…….. jelasmi orang dekat, kalau orang jauh tidak sampai tangannya ambil itu barang.
·         B : ??????.............. Hahahaha, iyo di’ !!!!!!

SELAMAT SORE !!!

Senin, 17 Oktober 2011

Bukan hanya kunang – kunang dan tak hanya di darat, anda dapat menemukan "bintang kecil"



Menurut mitos yang beredar di beberapa daerah, kunang – kunang adalah kuku orang yang telah meninggal. Mungkin karena hewan ini menghasilkan cahaya  kuning kecoklatan pada gelap malam. Terlepas dari benar atau tidaknya mitos di atas, Kunang – kunang itu benar bercahaya .
        Jika anda memiliki kedekatan dengan laut atau setidaknya senang menghabiskan malam di pinggir laut, mungkin anda pernah menyaksikan fenomena seperti kunang – kunang di atas. Bukan  hanya kunang – kunang dan tak hanya di darat, anda menemukan “bintang kecil”.    
Namun ada juga beberapa kelompok fitoplankton ( tumbuhan mikroskopis ) yang dapat menghasilkan cahaya. Di antaranya Noctiluca atau  Ceratium.
        Noctiluca ini akan menyala jika terganggu oleh kapal,perenang dan pecahan gelombang. Produksi cahaya secara biologis ini disebut biolominiscene. Reaksi ini terjadi juga pada beberapa spesies dinoflagellata, bakteri laut, dan seluruh phyla utama dari hewan laut. Cahaya dihasilkan apabila Luciferin yaitu senyawa organic sederhana teroksidasi dengan enzim Luciferase. Reaksi memancarkan cahaya telah dirancang sedemikian rupa sehingga hampir tak ada panas yang dihasilkan.( Ir. Arifin, M.Si )
       Di samping memiliki suatu keajaiban, peran fitoplangton secara umum juga sangat besar. Kelompok tumbuhan yang bersifat autotrof ini merupakan produsen primer di perairan. Bahkan hampir 79 % oksigen yang anda hirup dihasilkan dari sini, melebihi sumbangan dari hutan hujan.
Gambar ; Noctiluca scintillans